SASIRANGAN

Thursday, June 14, 2007


Kalo suku jawa punya batik sebagai kain tradisional, suku Banjar di Kalimantan Selatan juga punya “Sasirangan” sebagai kain adat. Kata sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti menjelujur, karena dikerjakan dengan cara menjelujur kemudian diikat dengan tali raffia dan selanjutnya dicelup, hingga kini sasirangan masih dibuat secara manual.
Sasirangan merupakan kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi patih Negara Dipa. Awalnya sasirangan dikenal sebagai kain untuk “batatamba” atau penyembuhan orang sakit yang harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan) sehingga pembutan kain sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, Urang Banjar seringkali menyebut sasirangan kain pamintan yang artinya permintaan. Selain untuk kesembuhan orang yang tertimpa penyakit, kain ini juga merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat
Sasirangan dibuat dengan cara menjelujur kain mengikuti motif yang telah dibuat, kemudian diikat dengan karet atau tali raffia agar dalam proses pencelupan tidak terkontaminasi dengan warna lain. Setelah dijelujur kemudian kain dicelupkan kedalam pewarna, proses pewarnaan ini disebut dengan pewarnaan rintang. Setelah jelujuran dilepas, timbullah motif natural yang tidak mudah ditiru mesin, karena masih diproduksi secara manual, sasirangan tidak bisa diproduksi missal seperti halnya batik printing.

Seperti halnya kain batik, sasirangan juga mempunyai berbagai macam motif bahkan beberapa diantaranya telah diakui pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM. Motif-motif tersebut antara lain Hiris Pudak (irisan daun pudak), Bayam Raja (daun bayam), kulit karikit(jamur kecil), Ombak Sinapur Karang (ombak menerjang batu karang), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), sarigading, kulit kayu, naga balimbur (ular naga), jajumputan (jumputan), turun dayang (garis-garis), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), daun jaruju (daun tanaman jaruju), kangkung kaombakan(daun kangkung), sisik tanggiling, kambang tanjung (bunga tanjung) dan masih banyak lagi motif-motif lainnya. Sekarang bahkan banyak motif-motif baru yang bermunculan yang membuat kain sasirangan semakin variatif.
Harga kain sasirangan ditentukan oleh jenis kain dan motif kain semakin sulit motif maka semakin mahal juga harganya. Beberapa jenis kain yang biasa digunakan antara lain, santung, katun, sutera, yuyur, dan satin. Untuk kain sutera pun terbagi dalam dua jenis yaitu sutera grand (sutera kelas II) dan sutera super (sutera kelas satu). Kain sasirangan biasanya dijual potongan. Ada potongan 2 meter untuk atasan, potongan 3 meter yang biasanya digunakan untuk bawahan (tapih dalam bahasa banjar), potongan 5 meter yang biasa dipakai untuk kemeja bapak dan bawahan ibu, potongan 5 meter ditambah dengan selendang dan potongan sarimbit 7 meter yang terdiri satu stel pakaian ibu, kemeja bapak dan selendang ibu. Untuk sasirangan berbahan sutera bisa dibeli dengan harga berkisar antara Rp 60 ribu sampai Rp 75 ribu per meter, untuk bahan yang lain bahkan bisa kita peroleh dengan harga lebih murah lagi. Seiring perkembangan mode, sasirangan tidak hanya dijual dalam bentuk potongan tetapi sekarang juga telah tersedia kemeja sasirangan, kaos, baju anak, mukena, berbagai macam jilbab dan selendang, bahkan ada sandal dan payung berbahan sasirangan.
Nah …. Kalo pas mampir ke Banjarmasin jangan lupa membeli kain sasirangan untuk oleh-oleh. Ada beberapa toko sasirangan yang bisa dikunjungi untuk bisa memperoleh sasirangan yang cantik, coba saja mampir mampir ke Sahabat Sasirangan yang punya beberapa cabang antara lain di Jl. A. Yani, Duta Mall, Banjarbaru dan Kalimantan. Ada satu tips bila berbelanja di Sahabat Sasirangan, jangan terkecoh dengan label harga yang ditempel di kain, karena biasanya kita bisa mendapatkan diskon dari label harga. Tidak jauh dari Sahabat Sasirangan Jl. A. Yani, kita bisa mampir ke Citra Sasirangan yang letaknya jadi satu dengan Citra Pasaraya, disini kita bisa mendapatkan sasirangan cantik dengan harga pas. Ada satu lagi toko sasirangan yang menarik dikunjungi yaitu “Irma Sasirangan” di seberang masjid, toko yang satu ini sudah terkenal seantero banjarmasin karena sering mengikuti pameran ke berbagai daerah bahkan sampai keluar negeri, soal kualitas juga tidak diragukan lagi, berbagai macam variasi sasirangan dapat diperoleh di toko ini antara lain selendang, jilbab, mukena dan lain-lain. Kalo berbelanja ke toko ini jangan lupa minta diskon, karena biasanya penjual akan memberi kita diskon 10%. Lumayan kan… apalagi kalo beli banyak…..
Ada beberapa tips untuk merawat sasirangan, yang pasti pisahkan sasirangan saat kita mencuci untuk pertama kalinya agar kain yang lain tidak kelunturan karena terkadang sasirangan bisa luntur. Jangan jemur sasirangan di bawah sinar matahari langsung agar warnanya tetap awet. Karena kain sasirangan dibuat dengan teknik jelujur, untuk membuat motif biasanya digunakan pensil atau bolpoin, nah untuk menghilangkan bekasnya bisa digunakan jeruk nipis, tapi sebaiknya dicoba pada bagian-bagian yang tidak terlihat lebih dulu, karena ada jenis-jenis kain sensitif.
Nah… sudah siap berburu sasirangan kan….

6 comments:

anna February 14, 2008 at 6:20 PM  

Tambahan tips utk merawat sasirangan ini "jangan dicuci dengan deterjen, cuci dengan sabun mandi atau sabun colek ajah. karena warna akan cepat pudar dengan deterjen:

Salam :D

Idzni August 11, 2008 at 12:54 AM  

WaaH...
MaKachiEh niE,, Web'na B'manFaat bwT saYa yG laGi ada Tugas dRi skuL,, aBouT saSiraNgan..

Aluh diah December 11, 2009 at 5:07 AM  

sedikit koreksi, kain sasirangan bukan kain khas suku dayak, tapi suku Banjar. dayak dan Banjar berbeda walopun sama2 di kalimantan. dan dayak pun punya kain khas ny sendiri. makasih. artikel yg bagus ^_^

ikha December 22, 2009 at 5:11 PM  

to: mbak diah
terima kasih koreksinya, semoga saya bisa membuat lebih banyak postingan tentang banjarmasin, walopun udah gak tinggal di sana lagi. di tunggu koreksi lainnya

juned January 4, 2010 at 2:10 AM  

ulun umpat ngomen kain dayak tu beda lg..... ini banjar

Anonymous June 29, 2010 at 8:54 PM  

alo...kakak di kalimantan?lam kenal y?aq astika orang solo.ada pertanyaan yang mengganjal ni kak....?
buat kak ikha: zat warna yang dipakai apa sich buat sasirangan?apakah zat warna naphtol ato remasol ato indantren ato direct? terus yang apa perbedaan sasirangan m jumputan, plangi dan shibori(dari nilai estetisnya)?
terus buat kak anna: perawatan seperti itu karena zat warna yang digunakan kan?
aq pernah dengar tentang zat warna naptol, setelah pencelupan selesai langsung dicuci dengan sabun piring batangan (low leh sebut merk WINGS batangan) kata pengrajin itu sebagai pengunci?bener g mb?

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP